|
Monday, December 4, 2006
|
|
|
SEBELUM mengenal berbagai jenis pakaian, saya sudah hidup dengan sarung. Sarung ayahlah yang membedong saya waktu saya masih jabang bayi. Kata ibu, "Sarung ayahmu, satu-satunya sarungnya waktu itu, digunting jadi empat lembar kain bedong. "
SARUNG pertama saya menjadi selimut saya waktu mulai beranjak besar dan sering tidur di surau. Sarung yang sama saya pakai untuk sembahyang dan mengaji. Sarung yang sama saya pakai untuk mandi di kali. Sarung yang sama saya pakai bermain topeng-topengan, ayun-ayunan dan gendong-gendongan bersama teman-teman. Sarung yang sama saya pakai untuk mengambil madu lebah. Sarung yang sama saya pakai waktu belum bisa pakai celana sehabis disunat. Sarung yang sama saya pakai untuk membalut luka. Sarung yang sama kami gunakan untuk menandu seorang kawan yang patah kaki tertimpa pohon.
"SARUNG pertamamu itu dulu ditenun olehnya," kata ibu menunjuk ke makam nenek saya, ketika kami berziarah sebelum bulan puasa. Waktu itu, saya memakai sarung baru. Sarung pertama saya telah sempurna robeknya. |
|
posted by Arbaah
1:05 AM

|
| |
|
|
|